Menu Content/Inhalt
Custom Search
Blok Artikel arrow Bahasan arrow Hamba Allah Yang Selalu Kembali Kepada-Nya
125x125 Banner Square JagoanStore

Polling

Apakah Anda Mengalami Gangguan ini ?
 

Newsflash

ShoutMix chat widget
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday129
mod_vvisit_counterYesterday595
mod_vvisit_counterThis week1930
mod_vvisit_counterThis month4605
mod_vvisit_counterAll days234911
Members: 4104
News: 255
Web Links: 0
We have 18 guests and 1 member online

Konseling

Pertanyaan
Jawaban

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

Hamba Allah Yang Selalu Kembali Kepada-Nya PDF Print E-mail
Written by DR. Atabik Luthfi, MA   
Hamba Allah Yang Selalu Kembali Kepada-Nya
 

"Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (selalu kembali kepadaTuhan)". (Shaad: 17)

TIDAK terasa bahwa bulan Ramadhan yang menawarkan beragam kebaikan dan manfaat, baik fisik maupun rohani yang merupakan aktualisasi dari makna Ramadhan sebagai Syahrun Mubarak akan segera berakhir. Sungguh satu hal yang luar biasa, perjalanan sebulan dapat dijadikan bekal yang sangat berarti bagi perjalanan 365 hari berikutnya. Karena memang, selama sebulan itu kita berusaha membangun dan memperkuat potensi spritualitas dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT yang tercermin dari ibadah mahdhah, munajat kita dan potensi moralitas yang intinya mengontrol dan mengendalikan diri agar senantiasa tetap hadir dalam ketaatan dan kepatuhan kepada-Nya. Wajar kalau di akhir khutbah menjelang bulan puasa Rasulullah mengultimatum, "Barang siapa yang tidak bisa tampil lebih baik (dari sisi spritualitas dan moralitas) di bulan Ramadhan, jangan harap ia akan bisa tampil lebih baik di luar bulan Ramadhan". (Imam Ahmad).

Salah seorang hamba Allah SWT yang banyak diabadikan namanya oleh al-Qur'an dalam konteks ketaatan adalah nabi Daud as. Salah satunya adalah ayat di atas ini. la disebutkan sebagai seorang yang paling banyak sholat dan puasanya. Bahkan dalam sebuah riwayat, Ath-Thobari menyebutkan nabi Daud menggilir waktu-waktu sholat antara keluarganya, sehingga tidak ada satu saatpun melainkan ada seorang anggota keluarganya yang sedang mendirikan shalat secara bergantian. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memberikan penghargaan atas sholat dan puasa nabi Daud, "Sebaik-baik sholat adalah sholat nabi Daud dan sebaik-baik puasa adalah puasa nabi Daud". (Bukhari)

Yang harus menjadi catatan besar kita tentang nabi Daud yang taat ini adalah bahwa ternyata ketaatannya tidak sendirian. Justru la wariskan ketaatan itu kepada anaknya, nabi Sulaiman as. Dan itu Allah SWT abadikan di dalam surah yang sama dengan pengabdian nabi Daud dengan redaksi yang mirip, "Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (selalu kembali kepada Tuhannya)". (Shaad: 30).

Terdapat beberapa makna dari kata "Awwab" yang menjadi kunci pembahasan ayat di atas. Menurut Sa'id bin Al-Musayyib, Awwab adalah seorang yang segera kembali bertaubat kepada Allah SWT setelah melakukan kemaksiatan. Pemahaman yang sama dituturkan oleh Ibnu Abbas bahwa Awwab ialah seorang yang apabila mengingat kesalahan-kesalahannya ia segera beristighfar memohon ampunan Allah SWT. Al-Qurthubi pula menjelaskan, Awwab artinya seorang yang segera kembali menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Makna yang ketiga lebih menyeluruh dan menunjukkan adanya tindakan nyata berupa ketaatan kepada Allah SWT setelah bertaubat.

Selanjutnya Imam Ar-Razi menuturkan berdasarkan analisa bahasa bahwa kata "Awwab" yang menjadi kata kunci dua ayat di atas merupakan ta'lil (alasan) kenapa nabi Daud dan nabi Sulaiman mendapat penghargaan langsung dari Allah SWT sebagai " Ni'mal Abd" sebaik-baik hamba. Karena Awwab dalam bentuk mubalaghah artinya seorang yang banyak kembali kepada Allah SWT dengan meninggalkan kemaksiatan dan menjalankan ketaatan kepadaNya. Bahkan menurut Imam Ath-Thobari, seorang yang Awwab (yang kembali kepada Allah) adalah seorang yang hafidz, artinya mampu pada masa yang sama memelihara segala bentuk ketaatan kepada Allah SWT tanpa terkecuali. Itulah sebabnya Allah SWT korelasikan antara kedua sifat tersebut dalam firman-Nya, "Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya)”. (Qaaf: 31-32)

Menurut Dr. Ahmad Syirbashi dalam bukunya "Mausu'ah Akhlaqul Qur'an", perintah untuk kembali taat kepada Allah SWT dengan menggunakan redaksi "Awwab" bukan hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada hewan yang diwakili oleh burung dan alam semesta ini yang diwakili oleh gunung. Allah SWT menggambarkan fenomena "Awwab" pada hewan dan alam semesta dalam firmanNya,"Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah". (Shaad: 19). " Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, kembalilah bertasbih berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya". (Saba': 10). Sungguh suatu perintah yang agung karena melibatkan seluruh makhlukNya selain manusia.

Pada tataran implementasinya, perintah kembali kepada Allah SWT dapat kita temukan dalam beberapa hadits Rasulullah SAW yang menunjukkan keutamaan sifat ini. Doa bepergian yang diajarkan oleh Rasulullah diawali dengan "Ayibun" yang artinya semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada Allah SWT). Lebih rinci dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, apabila Rasulullah selesai melakukan perjalanan haji, umrah atau peperangan, beliau bertakbir tiga kali pada setiap tempat yang tinggi seraya berdo'a: "Tidak ada Tuhan Melainkan Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. MilikNyalah segala kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertaubat, dan hamba-hambaMu yang patuh dan senantiasa bersujud memuji Engkau. Maha benar Allah dengan janjiNya, Dia telah menolong hamba-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya".

Dalam konteks shalat, dikenal juga istilah Sholatul Awwabin yaitu sholatnya orang-orang yang kembali kepada Allah yang tercermin dari kesungguhan dan istiqamahnya menjalankan sholat Dhuha, seperti dalam riwayat Muslim, "Sholat Awwabim adalah ketika menjelang siang dan mulai panas terik".

Demikianlah keutamaan orang-orang yang kembali kepada Allah SWT, dengan membawa koleksi amal ketaatan kepadaNya. Merekalah orang-orang sholih yang akan mendapat ampunan Allah SWT seperti yang disebutkan dalam jaminan firman-Nya, "Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepadaNya." (Al-Isra': 25). Sungguh ujian terbesar pasca Ramadhan selalu; mampukah kita tetap hadir kembali di forum dan arena ketaatan kepada Allah SWT seperti yang kita mampu hadirkan di bulan Ramadhan?. Akankah semangat "kembali kepada Allah SWT" mampu kita pertahankan pasca ramadhan?. Jadilah Hamba Rabbani, bukan Hamba Ramadhani. Begitulah harapan kita semua.

 

DR. Atabik Luthfi, MA
Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >