Menu Content/Inhalt
Custom Search
Blok Artikel arrow Bahasan arrow I S T I G H F A R ; Pesan Para Nabi
125x125 Banner Square JagoanStore

Polling

Apakah Anda Mengalami Gangguan ini ?
 

Newsflash

ShoutMix chat widget
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday109
mod_vvisit_counterYesterday595
mod_vvisit_counterThis week1910
mod_vvisit_counterThis month4585
mod_vvisit_counterAll days234891
Members: 4104
News: 255
Web Links: 0
We have 18 guests online

Konseling

Pertanyaan
Jawaban

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

I S T I G H F A R ; Pesan Para Nabi PDF Print E-mail
Written by DR. Atabik Luthfi, MA   
Monday, 19 October 2009
I S T I G H F A R ; Pesan Para Nabi
 
 

SURAT Hud yang pernah membuat Abu Bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah SAW beruban ternyata sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui lisan para Nabi Allah dari Nabi Hud, Shalih dan Nabi Syu’aib. Tercatat ada empat ayat di dalam surat ini yang menyebut perintah beristighfar dengan redaksi yang sama, yaitu ayat 3 di atas, ayat 52, 61, dan 90. Bahkan yang menarik, bahwa secara korelatif, perintah beristighfar pada ayat-ayat tersebut diawali dengan perintah menyembah dan mengabdi semata-mata kepada Allah SWT, seperti dalam surat Hud: 2 misalnya, "Agar kamu tidak menyembah selain Allah". (Hud: 2). Betapa tinggi nilai perintah beristighfar karena selalu berdampingan dengan perintah beribadah kepada-Nya. Sehingga merupakan satu kewajiban sekaligus kebutuhan seorang hamba agar senantiasa beristighfar kepada Allah H karena secara fithrah memang manusia tidak akan bisa mengelak dari melakukan dosa dan kesalahan sepanjang hidupnya. Peluang ampunan ini merupakan anugerah rahmat yang terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

 

Catatan lain yang bisa dikaji adalah bahwa perintah beristighfar di dalam ayat-ayat tadi dan di dalam Al-Qur'an pada umumnya selalu beriringan dengan perintah bertaubat," Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya". Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir mengemukakan rahasia penggabungan perintah beristighfar dan bertaubat pada kebanyakan ayat-ayat Al-Qur'an bahwa tidak ada jalan untuk meraih ampunan Allah SWT melainkan dengan menunjukkan prilaku dan sikap "taubat" yang diimplementasikan dengan penyesalan akan kesalahan masa lalu, melepaskan diri dari ikatan-ikatan (jaringan) kemaksiatan dalam segala bentuk dan sarananya, serta tekad yang tulus dan jujur untuk tidak mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dosa di masa yang akan datang. Dengan demikian, taubat merupakan penyempurna dari istighfar seseorang agar diterima oleh Allah SWT.

 

Secara aplikatif, kebiasaan beristighfar sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tercatat dalam sebuah riwayat Imam Bukhari bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari lebih dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam Muslim, beliau beristighfar setiap hari tidak kurang dari 100 kali. Pelajaran yang diambil dari prilaku Rasulullah SAW ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali. Para malaikat yang jelas tidak pernah melanggar perintah Allah SWT juga senantiasa beristighfar memohon ampunan untuk orang-orang yang beriman, "(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala". (Al-Mu'min: 7).

 

Berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang istighfar, paling tidak terdapat empat keutamaan dan nilai dari amaliah istighfar dalam kehidupan seorang muslim.

Pertama: Istighfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa. "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui". (Ali Imran: 135).

 

Kedua: Istighfar merupakan sumber kekuatan umat. Kaum nabi Hud yang dikenal dengan kekuatan yang luar biasa, masih diperintahkan oleh nabi mereka agar senantiasa beristighfar untuk menambah kekuatan yang mereka miliki. "Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa". (Hud: 52).

Bahkan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya menegaskan bahwa eksistensi sebuah umat ditentukan diantaranya dengan kesadaran mereka untuk selalu beristighfar, sehingga bukan merupakan aib dan tidak merugi orang-orang yang bersalah lantas ia menyadari kesalahannya dengan beristighfar memohon ampunan kepada Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW, "Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, seandainya kamu sekalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan mengambil kamu sekalian, lalu mendatangkan kaum yang lain yang berbuat dosa kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah pun berkenan mengampuni mereka". (Imam Muslim)

 

Ketiga: Istighfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT. Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al-Anfal : 33 "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun" menukil riwayat dari Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelemat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istighfar". Bahkan Ibnu Abbas menuturkan ungkapan istighfar meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan bahaya.

 

Keempat: Istighfar akan memudahkan urusan seseorang dan membukakan pintu rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Dalam konteks ini, Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Hud : 52 menukil hadits Rasulullah SAW yang bersabda, "Barangsiapa yang mampu mulazamah (membiasakan diri) dengan istighfar, maka Allah akan melapangkan segala kesempitannya, memudahkan segala kesulitannya dan memberinya rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka". (Abu Daud)

 

Demikianlah, pesan yang disampaikan oleh para nabi Allah kepada kaumnya sebagai salah satu solusi dari permasalahan mereka. Tentu istighfar yang dimaksud tidak hanya sekedar ucapan dengan lisan "Astaghfirullah", tetapi secara aplikatif sikap waspada, mawas diri dan berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku agar terhindar dari kesalahan. Dan jika terlanjur terjerumus ke dalam kemaksiatan segera sadar dan mampu bangkit dari kesalahan tersebut dengan bersungguh-sungguh bertaubat dalam arti menyuguhkan pengabdian dan karya yang lebih bermanfaat untuk umat. "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat". (Hud: 114)

 

 

DR. Atabik Luthfi, MA

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >