Menu Content/Inhalt
Custom Search
Blok Artikel arrow Blok Artikel arrow Islam yang Dirindukan
125x125 Banner Square JagoanStore

Polling

Apakah Anda Mengalami Gangguan ini ?
 
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday41
mod_vvisit_counterYesterday498
mod_vvisit_counterThis week4305
mod_vvisit_counterThis month10976
mod_vvisit_counterAll days291321
Members: 5467
News: 263
Web Links: 0
We have 12 guests online

Konseling

Pertanyaan
Jawaban

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

Islam yang Dirindukan PDF Print E-mail
Written by Ghoib Ruqyah Syar'iyyah   
Thursday, 13 October 2011
Islam yang Dirindukan 
 

Sample ImageUnik. Disatu sisi terlihat masyarakat ini acuh terhadap agamanya. Berontak dan tidak mau diatur dengan aturan Islam yang sesungguhnya. Mereka selalu mencari pembenaran dan bukan kebenaran.

Hal ini ditambah dengan label-label buruk yang disematkan oleh musuh Islam terhadap Islam. Agama yang berlaku diskriminatif terhadap wanita. Agama yang mengajarkan kekerasan dalam rumah tangga. Agama yang melahirkan teroris. Agama zaman padang pasir. Dan sebagainya. 

Kalau sekadar stempel dan label, sudah merupakan catatan sejarah bahwa sepanjang Islam masih ada musuh akan terus melakukannya. Sejak kehadiran Rasulullah SAW pertama kali di Mekah.

Bahkan peristiwanya diabadikan dalam al-Qur’an. Raut wajah pemimpin rapat kala itu tergambar jelas dalam ayat. Walid bin Mughirah, namanya. Raut wajah kebingungan. Karena apapun yang akan mereka putuskan, mereka sesungguhnya sudah tahu bahwa hal itu tidaklah benar. Tetapi mereka harus memutuskan. Mereka hendak membuat sebuah label yang sama untuk disematkan pada Islam.

Berikut kisah al-Qur’an, “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan! Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: (Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang terdahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. al-Muddatsir: 18-25)

Jadi, kalau masalahnya hanya upaya siang dan malam musuh Islam untuk memperburuk tampilan wajah Islam, itu sudah menjadi sunnatullah. Masalahnya ada pada muslim itu sendiri. Saat muslim ini tidak sekokoh generasi shahabat di Mekah, mereka akan mudah terpengaruh dan kemudian termakan isu. Akhirnya yang ada adalah ungkapan sebagian orang bahwa masyarakat ini ingin bebas nilai. Dan hal itu jelas tidak sejalan dengan Islam yang sarat nilai.

Tetapi masyarakat ini sesungguhnya masih punya nurani. Nurani fitrah. Mungkin kecil, tetapi masih ada. Nurani itulah yang membisikkan bahwa sesungguhnya Islam tidaklah seperti itu. Islam adalah agama yang indah, damai, maju, berperadaban tinggi dan segala bentuk kebaikan lainnya yang ada dalam Islam.

Reaksi juga berpengaruh di sini. Reaksi masyarakat terhadap label-label buruk, dengan cara menampilkan Islam dan memilihnya dari sisi ajarannya yang lembut, indah dan damai. Hal ini masih ditambah karakter masyarakat timur yang cenderung hidup dengan perasaan, tidak suka kekerasan dan sangat menjaga orang lain.

Maka akhirnya, tampilan Islam yang mereka inginkan tercermin dari serbuan masyarakat terhadap ayat-ayat cinta, laskar pelangi dan para pencari tuhan. Mereka ingin Islam tetapi yang lembut saja. Mereka rindu Islam tetapi yang menyentuh permasalahan mereka dan sosial secara umum.

Wajah lslam Sesungguhnya

Pembicaraan tentang ini sangat bermanfaat saat kita ingin menyadarkan orang tentang keislamannya. Apapun sisi keislaman mereka yang harus dibenahi.

Tetapi harus tetap dibedakan antara isi dan kemasan. Isi adalah ajaran Islam itu sendiri. Sementara kemasan adalah tampilan, cara dan waktu yang kita pilih untuk menyampaikan ajaran tersebut. Mencermati ayat berikut ini sangat menarik, “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan j awab) tentang penghuni-penghuni neraka.” (QS. al-Baqarah: 119)

Ada dua kata yang disampaikan dalam ayat tersebut tentang diri pemimpin para dai Islam, Rasulullah Muhammad SAW. Tampilan yang Allah ajarkan dalam menyampaikan Islam ada dua: Basyiradan Nadzira. Dalam al-Qur’an, ada empat tempat yang menampilkan dua kata ini untuk fungsi Rasul sebagai penyampai risalah: al-Baqarah: 119, Saba’: 28, Fathir: 24, Fushshilat: 4. Pengulangan yang menunjukkan penguatan tema ini.

Ada beberapa pelajaran pada dua kata yang disandingkan itu.

Pertama, Islam ini harus tampil dengan dua kata itu sekaligus. Masyarakat ini harus dibentuk dengan dua sisi ajaran Islam itu. Islam yang memberikan kabar gembira dan Islam yang memberikan peringatan. Keduanya tidak boleh dipisahkan dan dikebiri salah satunya. Karena jika itu dilakukan akan menimbulkan efek buruk dalam masyarakat.

Jika terlalu besar porsi busyra (kabar gembira), maka hasilnya seperti yang kita lihat pada kebanyakan masyarakat kita hari ini. Sangat besar harapannya kepada ampunan dan pahala Allah dengan mengabaikan dosa dan meremehkannya. Setiap dosa dilakukan, selalu diikuti kata: Allah itu Maha Pengampun. Padahal dalam ayat tidak selamanya seperti itu. Terkadang Allah mengakhiri ayat yang berbicara tentang dosa dengan kata: “Sesungguhnya Allah amat pedih siksanya”.

Jika terlalu besar porsi indzar (peringatan), maka akan menghasilkan generasi yang muram dan memandang dunia yang harus dimakmurkan ini menjadi buram. Karena selalu merasa dihadang oleh dosa dan kesalahan. Tidak terlalu berani melangkah adalah dampak berikutnya, padahal kiprahnya sangat ditunggu dunia. Akhimya tidak berani memutuskan padahal banyak hal yang harus segera diselesaikan.

Inilah isi ajaran Islam itu. Ada kabar gembira sekaligus ada ancaman tentang kesalahan dan dosa.

Kedua, Islam harus tampil dengan basyira baru nadzira. Inilah kemasannya. Islam harus dikemas sedemikian rupa sehingga yang didengar masyarakat pertama bukan kesulitan, ancaman, neraka dan adzab pedih. Tetapi masyarakat ini harus mendengar tentang kemudahan Islam, pahala, surga, kenikmatan hidup bersama Islam.

Jika yang pertama didengar adalah peringatan dan ancaman, sangat mungkin masyarakat ini sudah lari dahulu sebelum mendengarkan ajaran Islam. Walhasil, Islam ini ridak pemah sampai ke telinga masyarakat. Bahkan menjauhi masjid mereka sendiri, hanya karena mereka trauma dan merasa dicaci maki di masjid itu. Memang, kebenaran yang disampaikan tetapi bukan waktu yang tepat dan untuk masyarakat yang belum tepat. Kita tentu ingat pesan Abdullah bin Mas’ud, “Tidaklah kamu berbicara dengan suatu masyarakat yang tidak bisa dijangkau oleh akal mereka, kecuali pasti akan menimbulkan fitnah.” (lihat mukaddimah Shahih Muslim bab an-Nahyu ‘anil hadits bikulli ma sami).

Fitnah itu di antaranya adalah didustakannya ajaran Islam oleh muslimin sendiri. Bahkan dituduh sebagai ajaran baru yang palsu, sesat dan meresahkan. Padahal dalilnya langsung dari al-Qur’an dan hadits yang shahih. Ini akibat penyampaian yang tidak tepat.

Kabar gembira harus disampaikan terlebih dahulu. Karena sudah merupakan sunnatullah bahwa manusia menginginkan, mengharapkan suatu kebaikan, kebesaran, kemajuan dan ketentraman. Dan itu adalah karakter kabar gembira.

Mari kita lihat bahasa 6 orang Madinah yang pertama kali menerima Islam di hadapan Rasulullah, ada harapan mereka di sana. “Kami meninggalkan suatu masyarakat kami dengan permusuhan dan keburukan yang ada terjadi di antara mereka. Semoga Allah bisa menyatukan mereka kembali dengan kehadiranmu. Kami akan datang kepada mereka, kami akan ajak mereka untuk menerima risalahmu. Kami juga akan menawarkan kepada mereka sesuatu yang telah kami terima tentang agama ini. Jika benar kelak Allah menyatukan kami kembali, maka tidak ada orang yang paling mulia di mata kami melainkan engkau.” (ar-Rahiq al-Makhtum hal. 106)

Dengan bahasa harapan irulah Nabi menawarkan dan sekaligus menjawab mereka. Dengan kabar gembira akan persatuan, perdamaian, kebesaran dan kebaikan. Dengan itulah Nabi menembus masyarakat Kota Madinah untuk pertama kalinya.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Al-Iman bil Ghoib Edisi 102/4

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 13 October 2011 )
 
< Prev   Next >