Popular
- Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?
- Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul
- Ajian Pemanggil Roh
- Pertolongan Pertama Pada Kesurupan Jin
- Antara Ilmu Hitam dan Ilmu Putih
- Jimat “Pelet” Penyambung Putus Cinta
- PENGOBATAN ala RASULULLAH SAW
- 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua
- Uang Sering Hilang Dicuri Tuyul
- Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?
- Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghaib
- Terapi Ruqyah dan Kedokteran Modern
- SEJARAH PERDUKUNAN DARI MASA KE MASA
- Wiridan Dua Juta Kali?
- Rambu-rambu Ikhtiar dalam Islam
| Istighfar Bagian Dari Taubat |
|
|
|
| Written by Ghoib Ruqyah Syar'iyyah | ||||||||
| Thursday, 29 September 2011 | ||||||||
|
Istighfar Bagian Dari Taubat Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesaahan -kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawah-nya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. at-Tahrim: 8). lbnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan “Taubat Nashuha” (taubat yang semurni-murninya) pada ayat tersebut adalah; penyesalan di hati, dan istighfar di mulut, dan menjauhkan dirinya dari dosa tersebut, dan bertekad untuk tidak mengulanginya selamanya.” (Kitab Tanbihul Ghafilin: 68). Bila kita simak definisi taubat nashuha yang disampaikan oleh lbnu Abbas tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa istighfar adalah bagian dari taubat. Apabila kita kita bertaubat kepada Allah dengan benar, agar taubat kita diterima, dosa-dosa kita diampuni. Maka taubat kita tidak cukup kalau hanya membaca istighfar. Apalagi kalau kesalahan atau dosa yang ada, disebabkan karena kezhaliman kita terhadap sesama manusia. Apabila dosa yang kita miliki akibat perbuatan maksiat kepada Allah, maka istighfar yang kita ucapkan harus kita dahului dengan penyesalan yang mendalam di hati, dan diiringi dengan tekad kita untuk menjauhi perbuatan dosa tersebut, serta dibarengi dengan langkah untuk menjauhkan diri kita dari dosa itu. Tapi jika dosa tersebut akibat dari kezhaliman kita terhadap sesama, misalnya mencuri, menggunjing, mengejek dan lainnya. Maka poin-poin taubat di atas harus kita tambah, yaitu kita harus mengembalikan barang yang kita curi itu, atau minta maaf langsung kepada yang bersangkutan. Seorang ulama’ wanita yang bernama Rabi’ah al-Adawiyah pernah berkata, “lstighfar kita ini masih membutuhkan istighfar lagi yang banyak. Apabila seseorang beristghfar dengan lisannya, tapi niat yang ada dalam hatinya adalah mengulangi dosa tersebut, maka taubatnya adalah taubat para pendusta. Dan itu belum bisa disebut taubat. Karena taubat yang benar adalah, lisannya beristighfar, sedangkan hatinya berkeinginan kuat untuk tidak mengulangi dosa tersebut. Apabila hal itu dilaksanakan, maka Allah akan mengampuni dosanya, walaupun dosanya tergolong dosa besar. Karena Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.”(Kitab Tanbihul Ghafilin: 68). Pernyataan Rabi’ah tersebut senada dengan pernyataan yang disampaikan seorang ulama’ besar yang bernama Fudhail bin ‘lyadh. la pernah berkata, “lstighfar tanpa menjauhi dosa yang dilakukan berarti taubatnya seorang pendusta.” (Kitab lhya’ Ulumiddin: 410). Kemudian ada ulama’ lain yang mengatakan, “Barangsiapa yang mendahulukan istighfar dari pada penyesalan atas dosanya, maka ia telah mengejek Allah sedangkan ia tidak menyadarinya.” (Kitab lhya’ Ulumuddin: 410). lstighfar tidak hanya cukup di lisan atau di mulut, tapi harus dibarengi dengan tindakan lain. Hati menyesal dari tindakannya berusaha untuk menjauhi ke maksiatan yang telah dilakukan. Bukan dengan kepura-puraan atau main-main. Karena Rasulullah SAW telah bersabda, “Orang yang mengucapkan istighfar dengan lisannya, tapi dia masih melakukan dosa tersebut, berarti ia melecehkan Tuhannya.” (HR. Ibnu Abid Dunya). lstighfar yang sesungguhnya, bukan sekadar di bibir saja. Dalam kitabnya, Imam Abu Hamid al-Ghozali bercerita, “Ada seorang badui yang sedang bergelayut di kain ka’bah seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya istighfarku bersama dosa yang masih kukerjakan adalah merupakan kekejian. Sedangkan jika aku tinggalkan istighfar padahal aku tahu akan luasnya ampunan-Mu, berarti suatu kenaifan. Betapa banyak nikmat yang telah Engkau kucurkan kepadaku, dan Engkau tidak butuh apa-apa dariku. Dan betapa sering aku membuat-Mu murka dengan berbagai macam maksiat, padahal aku masih butuh kepada-Mu. Wahai Dzat yang apabila berjanji, selalu menepati. Dan apabila memberikan ancaman, banyak mengampuni. Masukkanlah besarnya dosa-dosaku ke besarnya ampunan-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih.” (Kitab Ihya’ Ulumiddin: 410). Tinggalkan Kesyirikan, Segeralah Bertaubat! Allah berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasanya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surge yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali ‘lmran: 135-136). Banyak dosa yang terhampar di hadapan kita, dosa besar maupun dosa kecil. Entah sudah berapa banyak dosa besar yang telah menempel pada diri kita. Entah sudah berapa sering dosa-dosa kecil melumuri jiwa kita. Seandainya dosa-dosa itu seperti luka-luka, pastilah luka itu telah membusuk. Lalu menebarkan aroma busuk yang menyengat, sehingga tak ada seorangpun yang betah tinggal bersama kita. Dari sekian banyak dosa besar. Bagi kita, orang muslim dan mukmin -baik laki-laki maupun perempuan yang wajib kita waspadai adalah dosa syirik. Dosa yang satu ini amatlah berat kendungan kekotorannya di sisi Allah. Kalau kita mati dengan membawa dosa syirik ini, jangan harap akan mendapatkan ampunan dari Allah. Bahkan amal kebajikan kita yang lain pun akan hangus tak tersisa sedikitpun. Sekaranglah saatnya kita meninggalkan kesyirikan, lalu beristighfar dan bertaubat kepada-Nya, sebelum malaikat maut datang. Abu Dzar berkata, “Rasulullah bersabda, Allah telah menegaskan, ‘Wahai anak Adam, Jika kamu selalu memohon dan mengharap kepada-Ku, maka sesungguhnya Aku akan mengampuni dosa-dosa yang ada pada dirimu. Seandainya kamu menghadap kepada-Ku dengan memikul dosa memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu selama kamu tidak menyekutukan-Ku, dan Aku tidak peduli (seberapa banyak dosamu)’.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Jangan tunda lagi, bila kita sadar akan dosa yang telah kita perbuat, segeralah beristighfar dan bertaubat. kepada Allah. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’: 110-111). Istighfar Adalah Dzikir Harian Kalimat istighfar tidak hanya diucapkan ketika kita telah melakukan suatu dosa atau kemaksiatan. Tidak dikhususkan sebagai bacaan orang-orang yang berlumuran dosa, lalu ingin membersihkan diri darinya. Tapi istighfar milik kita semua dan bacaan setiap hamba yang ingin lebih dekat dengan Tuhannya. Pengucapan dan pelafazhannya tidak menunggu adanya dosa dan kesalahan. Seyogyanya kita beristighfar setiap saat, setiap waktu, setiap hari, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Simaklah yang terjaga dari dosa berikut ini, orang yang paling dekat kepada Allah dan paling bertaqwa kepada-Nya. Orang yang malamnya dihidupkan dengan shalat dan dzikir, sampai kakinya bengkak. Orang yang telah mendapatkan jaminan masuk surga, bahkan sebagai pembuka kunci surga. Orang yang telah dipilih sebagai penutup para nabi dan rasul, dan menjadi penghulu mereka di hari kiamat kelak. Dialah Muhammad bin Abdullah. Salah seorang shahabatnya yang paling banyak meriwayatkan haditsnya (Abu Hurairah) telah berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, aku sungguh beristghfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari). Dan dalam riwayat lain, al-Aghar bin Yasar al-Muzni berkata, “Rasulullah telahbersabda,’Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain, Tsauban berkata, “Adalah Rasulullah, apabila beliau selesai shalat, beliau membaca istighfar tiga kali, lalu membaca: ‘Ya Allah, Engkau Maha Penyelamat, dari-Mu keselamatan. Maha Suci Engkau, Wahai Dzat yang Maha Agung lagi Mulia.” (HR. Ahmad dan Muslim). Sungguh merupakan sosok teladan yang berakhklak agung dan mulia. Tiada dosa melumuri tubuhnya, tiada kesalahannya yang tak termaafkan. Tiada sedikitpun ancaman untuknya akan panasnya api neraka. Tapi sosok agung sebagai panutan kita itu ternyata setiap hari membasahi bibirnya dengan istighfar, dan memohon ampunan kepada Robbnya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Lalu sekarang pertanyaannya, “Sudah berapa kali kita beristighfar pada hari ini?” Luqman al-Hakim (orang shalih yang namanya diabadikan dalam al-Qur’an dan menjadi salah satu nama surat al-Qur’an, pernah berpesan kepada anaknya, “Wahai Anakku, biasakanlah lisanmu membaca: ‘Allahummaghfirli’ (Ya Allah, ampunilah daku), karena Allah mempunyai waktu-waktu yang mana permohonan seseorang pada saat itu tidak akan ditolak.” (KItab Tazkiyatun Nufus: 51). Hasan al-Bashri (salah seorang pemimpin generasi tabi’in) berkata, “Perbanyaklah membaca istighfar di rumah-rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar-pasar kalian, dan di majlis-majlis kalian, dan di mana saja kalian berada, karena kalian tidak akan tahu secara pasti, kapan ampunan Allah itu turun.” (Kitab Tazkiyatun Nufus: 51).
Ghoib Ruqyah Syar’iyyah Sumber : Majalah Ghoib Edisi 69/4
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||
| Last Updated ( Thursday, 29 September 2011 ) | ||||||||
| < Prev | Next > |
|---|


















