Popular
- Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?
- Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul
- Ajian Pemanggil Roh
- Pertolongan Pertama Pada Kesurupan Jin
- Antara Ilmu Hitam dan Ilmu Putih
- Jimat “Pelet” Penyambung Putus Cinta
- PENGOBATAN ala RASULULLAH SAW
- 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua
- Uang Sering Hilang Dicuri Tuyul
- Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?
- Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghaib
- Terapi Ruqyah dan Kedokteran Modern
- SEJARAH PERDUKUNAN DARI MASA KE MASA
- Wiridan Dua Juta Kali?
- Rambu-rambu Ikhtiar dalam Islam
| Istighfar Bukan Sekadar di Bibir |
|
|
|
| Written by Ghoib Ruqyah Syar'iyyah | ||||||||
| Tuesday, 21 June 2011 | ||||||||
|
Istighfar Bukan Sekadar di Bibir Semua manusia berpotensi untuk melakukan kesalahan, kesalahan besar atau kecil. Potensi itu juga berlaku untuk para nabi dan rasul, karena mereka juga manusia. Hanya saja, para nabi dan rasul itu punya pengontrol ketat dan cermat, yaitu Allah. Sedikit saja mereka melakukan kesalahan, saat itu juga Allah menequr dan mengingatkannya. Dan fasilitas itu tidak kita miliki, sebagai manusia biasa. Simaklah kesalahan yang pernah diperbuat oleh Nabi Adam. Karena begitu gigih dan liciknya si lblis, akhirnya Nabi Adam terperosok dalam kesalahan, dan Nabi Adam pun segera menyesal dan memohon ampunan kepada Allah setelah menyadari bahwa dirinya telah terseret oleh tipudaya musuh utama, Iblis yang durjana. Al-Qur’an mengisahkan kepada kita sebagai pelajaran. “Maka syetan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syetan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang member nasehatkepada kamu berdua”, maka syetan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengantipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. al-A’raf:20-23) Begitu juga yang pernah dialami Yunus bin Matta. Ia diutus Allah ke daerah Naiwana (nama daerah di Mushil, Irak). la berdakwah ke penduduk setempat, tapi respon mereka tidak bagus, mereka tetap dalam kekufuran sebelum akhirnya bertaubat. Nabi Yunus marah dan pergi meninggalkan mereka. Allah menegur Nabi Yunus akan ketidaksabarannya itu, dalam perjalanan laut ia tenggelam dan ditelan lkan Paus. Dalam kegelapan perut ikan itu, ia menyesali kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah. “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulikannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap; “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engakau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelemamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya’: 87-88). Kesalahan juga pernah dilakukan Nabi Muhammad. Diantaranya, saat beliau ditanya sekelompok orang tentang kepastian berapa jumlah Ashhabul Kahfi, Nabi Muhammad memastikan kepada mereka bahwa jawabannya besok, tanpa mengucap insya Allah. Allah pun segera menegurnya, dan Rasulullah segera menyadari kesalahannya. “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. (QS. alKahfi: 22-24). Berbuat salah adalah manusiawi, karena tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali dalam hidupnya. Hanya saja kita tidak boleh tinggal diam terhadap kesalahan yang telah kita lakukan, apalagi meremehkan dan melalaikannya. Segeralah bertaubat dan beristighfar dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Sebagaimana yang telah dicontohkan para nabi, panutan dan teladan kita bersama. Dalam haditsnya, Rasulullah memberitahukan, “Setiap anak Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat.” (HR. Ahmad, Ibnu majah dan Al-Hakim). Termasuk para Nabi, meskipun mereka adalaha manusia-manusia pilihan yang telah diutus Allah. Mereka juga pernah melakukan kesalahan, akan tetapi Allah tidak membiarkan kesalahan itu begitu saja, Allah segera menegur dan mengingatkan mereka. Merekapun tidak malu atau enggan untuk mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat, bahkan dengan rendah diri mereka segera bersujud kepada Allah dan memohon ampunan-Nya. Itulah faktor yang sangat membedakan antara kita dengan mereka. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Dan demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, Jika kalian tidak pernah berbuat dosa dan tidak pernah beristighfar, niscaya Allah akan membinasakan kalian. Dan Dia akan mendatangkan kaum selain kalian, yang melakukan dosa dan beristighfar kepada Allah, dan Allah-pun akan mengampuninya.’ (HR. Muslim dan Ahmad). Jangan Meremehkan Dosa Apalagi Membanggakannya Sering kali kita melakukan kesalahan, dan sering kali pula kita mengingkari dan melupakannya. Kalaupun kita menyadari bahwa yang kita perbuat itu adalah suatu yang salah, tapi terkadang kita suka menunda-nunda untuk menghentikannya atau bertaubat darinya. Sehingga kesalahan demi kesalahan terus terulang dan terulang. Dosa demi dosa terus bertambah dan menumpuk dari hari ke hari. Yang lebih parah lagi adalah mereka yang mengingkari dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Ada yang berkata, “Ah, dosa gini mah nggak apa-apa!” Atau, “Nggak apa-apa, baru sekali ini...!” Dan ada juga mereka yang meremehkan akan dosa yang telah dilakukan. Mereka berkata, “Dosa kecil ini, nggak ngaruh...!” Atau, 'llni belum seberapa, masih banyak kok orang yang dosanya lebih banyak daripada saya...!” Atau, “Wajarlah, kita sebagai manusia biasa berbuat dosa, Nabi Adam saja pernah bersalah dan berdosa...!” Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang menunjukkan bahwa para pelaku dosa itu meremehkan dosa-dosa yang telah di perbuat, atau memeberikan justifikasi pada diri sendiri. Orang yang mengingkari dosa-dosa yang telah dilakukannya, berarti ia telah menggali lubang untuk dirinya sendiri, atau memasang perangkap untuk pribadinya sendiri. Secara tidak disadari, mereka telah menghalakan apa yang sudah diharamkan oleh Allah. Dan dengan pengingkaran yang dialkukannya, biasanya mereka mersa tidak berdosa atau tidak bersalah. Padahal para malaikat yang telah ditugsakan Allah untuk mencatat amal buruknya tidak pernah tidur, tidak akan lupa dan juga tidak akan membiarkan dosa-dosanya. Hari demi hari, dosa mereka semakin banyak, mereka tidak menyadarinya. Dan di akhirat nanti, mereka akan tercengang dengan tumpukan dosa yang terampunkan. Yang lebih fatal lagi adalah mereka yang bangga akan dosa-dosa. Tidak tersirat penyesalan pada raut muka mereka ketika dosa demi dosa diperbuat. Mereka berbuat dosa seperti orang shalih berbuat kebaikan. Mereka terang-terangan berbuat maksiat di depan keluarganya, di tengah masyarakat lingkungannya, di tempat pergaulannya. Mereka tidak malu bila ada manusia lain yang melihat kemaksiatannya. Terhadap manusia di sekitarnya saja mereka tidak malu, apalagi terhadap Allah yang tidak terlihat oleh mata kepala mereka. Dalam haditsnya, Rasulullah SAW mengancam orang-orang yang tidak malu berbuat dosa, Rasulullah mengingatkan mereka dengan peringatan yang keras, agar tidak meremehkan dosa yang diperbuat, apalagi membanggakannya. Dengan bahasa yang halus, Rasulullah mengatakan, “Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari). Dan di riwayat lain, “Setiap orang ada kemungkinan dimaafkan kesalahannya, kecuali orang-orang yang terang-terangan (dalam berbuat dosanya).” (Diriwayatkan lbnu Abdil Bar dalam Kitab at-Tamhid, dari Abu Hurairah). Dan ada yang lebih fatal dan lebih naïf lagi daripada kelompok tersebut di atas. Yaitu kelompok orang-orang yang tidak merasa bersalah setelah melakukan maksiat. Mereka merasa bahwa maksiat yang telah mereka lakukan adalah termasuk ibadah dan prestasi yang patut dibanggakan. Kelompok ini, walaupun masih mengaku sebagai seorang mukmin, keimanannya perlu dipertanyakan. Kalaupun masih ada iman dalam hati mereka, tentu keberadaannya sudah melemah, atau bahkan telah mati dan hanya tinggal bangkainya saja. Aksi pornografi mereka anggap sebagai hasil seni yang punya cita rasa tinggi. Penyebar gossip merasa telah menjadi orang yang berjasa karena merasa telah menyuplai informasi menarik kepada orang yang dikabarinya. Atau ia merasa telah menjadi seorang pahlawan karena berhasil menguak aib saudaranya yang selama ini tertutup rapat. Berhasil mendemontrasikan Ilmu sihir,merasa sebagai orang hebat dan sakti pilih tanding. Dengan Ilmu kesyirikan ia berhasil mengobati seseorang, lalu merasa bahwa ia telah bermanfaat dan berjasa membantu orang lain. Padahal mereka sebenarnya telah terperangkap dalam tipudaya syetan. Sehingga kemaksiatan yang dilakukan terasa sebagai ibadah yang berpahala. Dalam al-Qur’an dijelaskan, “lblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya’.” (QS. al-Hijr: 39).
Ghoib Ruqyah Syar’iyyah Sumber : Majalah Ghoib Edisi 69/4
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 21 June 2011 ) | ||||||||
| < Prev | Next > |
|---|


















