Menu Content/Inhalt
Custom Search
Blok Artikel arrow Blok Artikel arrow Jangan Menjadi Biang Bencana
125x125 Banner Square JagoanStore

Polling

Apakah Anda Mengalami Gangguan ini ?
 
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday42
mod_vvisit_counterYesterday498
mod_vvisit_counterThis week4306
mod_vvisit_counterThis month10977
mod_vvisit_counterAll days291322
Members: 5467
News: 263
Web Links: 0
We have 14 guests online

Konseling

Pertanyaan
Jawaban

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

Jangan Menjadi Biang Bencana PDF Print E-mail
Written by Ghoib Ruqyah Syar'iyyah   
Tuesday, 02 November 2010
Jangan Menjadi Biang Bencana 
 

Sample ImageHari-hari sulit saat ini mau tidak mau harus kita hadapi. Meskipun itu tidak mudah. Meskipun masih banyak orang yang tetap betah berenang di dalam comberan dosa. Setidaknya, setiap orang harus menata dirinya sendiri. Bila memang ia tidak bisa menata orang lain.

Kekacauan ini harus dibenahi. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Lantas, apa yang harus kita lakukan. Jauhkan perbuatan dosa. Jauhkan perbuatan maksiat. Jadikanlah syetan sebagai musuh, dan jangan jadikan dia sebagai teman. Tinggalkan kejahatan, baik kejahatan fisik, kejahatan harta, kejahatan jabatan, kejahatan opini, dan kejahatan-kejahatan lainnya.

Sebisa mungkin setiap kita harus menjauhi tindak kejahatan. Apapun bentuknya. Memang ini susah. Tetapi tanpa itu semua bencana demi bencana akan terus mengancam. Baik mengancam pribadi, mengancam msyarakat, bahkan mengancam negara.

Melakukan kejahatan, apapun bentuknya, seperti meminum air laut. Semakin diminum semakin haus. Begitulah karena syetan begitu berhasil menggoda mannusia untuk melakukan sebuah kejahatan, ia akan mendorongnya untuk melakukan kejahatan yang lebih besar lagi. Bila ia berhasil, maka syetan akan menggodanya, untuk melakukan kejahatan yang lebih besar lagi. Begitu seterusnya.

Dalam kejahatan syahwat kemaluan misalnya, seorang penyair rnengatakan, Mulanya beradu pandang, lalu melempar senyuman. sesudah itu janjian, akhirnya terjadilah pertemuan. Sesudah itu bertiga bersama syetan.

Langkah selanjutnya, adalah dengan mencuci diri. Bertaubat dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Kejahatan itu ibarat kotoran. la harus dibersihkan. Dengan taubat dan memohon ampun kepada Allah.

Dijaman Nabi Nuh, kesulitan terjadi di mana-mana. Kekeringan melanda negeri. Maka Nai Nuh menasehati kaumnya untuk banyak-banyak beristigfar, memohon ampun kepada Allah. Nabi Nuh, seperti diabadikan melalui firman Allah di dalam Al-Qur’an mengakatan, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan keapdamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10 – 12)

Poin ini juga menjelaskan, bahwa bila bencana sangat berhubungan dengan dosa dan maksiat, sebaliknya, kebahagiaan, kedamaian, juga berhubungan dengan ketaatan, ketertiban, dan kesesuaian hidup di atas jalan Allah. Maka, setiap muslim harus memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah. Dari segala keiahatan yang nampak maupun yang tersembunyi.

Selanjutnya, selain istighfar dan memohon taubat, yang harus dilakukan adalah menunaikan hak-hak kehidupan. Setiap kita pasti punya tanggung jawab. Siapapun kita. Seorang gurukah kita, seorang Petani, seorang ulama, seorang pegawai, seorang polisi, bahkan seorang anak pun semua kita punya tanggung jawab dan punya kewajiban tertentu dalam hidup ini. Kewajiban itu bahkan merupakan hak bagi orang lain. Bila ada orang yang tidak menunaikan kewajiban, itu artinya ada hak orang lain yang tidak tertunaikan. Dalam istilah Rasulullah, kondisi ini disebut dengan, ‘Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya.’

Dengan langkah-langkah tersebut, bencana yang menimpa bangsa ini semoga bisa kita hindari. Setidaknya, bila kita telah berbuat, kalaupun bencana itu masih menimpa, kita tidak dalam kapasitas sebagai biang kerok bencana, tapi sebatas korban yang sedang diuji oleh Allah.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 03/1

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Tuesday, 02 November 2010 )
 
< Prev   Next >