Popular
- Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?
- Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul
- Ajian Pemanggil Roh
- Pertolongan Pertama Pada Kesurupan Jin
- Antara Ilmu Hitam dan Ilmu Putih
- Jimat “Pelet” Penyambung Putus Cinta
- PENGOBATAN ala RASULULLAH SAW
- 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua
- Uang Sering Hilang Dicuri Tuyul
- Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?
- Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghaib
- Terapi Ruqyah dan Kedokteran Modern
- SEJARAH PERDUKUNAN DARI MASA KE MASA
- Wiridan Dua Juta Kali?
- Rambu-rambu Ikhtiar dalam Islam
| Membangun Keshalehan Individu dan Sosial |
|
|
|
| Written by DR. Attabik Luthfi, MA | ||||||||
| Thursday, 27 October 2011 | ||||||||
|
Membangun Keshalehan Individu dan Sosial Oleh : DR. Atabik Luthfi, MA
Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah untuk manusia dan beban taklif bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. la diawali dengan perintah untuk ruku’ dan sujud yang merupakan gambaran gerakan shalat yang tampak dan jelas. Dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang ditujukan hanya kepada Allah. Sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah. Bahkan kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang ditulis sebagai pahala amal baik. Ayat ini ditutp dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikan dengan Allah dalam shalat dan ibadah lainnya. Maka perrintah ibadah dimaksudkan agar umat lslam selalu terhubung dengan Allah sehingga kehidupannya berdiri di atas pondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untu melakukan kebaikan dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang. Perintah ini dipertegas kembali di akhir al-Hajj, bahwa umat lslam akan mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat pilihan dan sebagai saksi atas umat yang lain manakala mampu membina hubungan baik dengan Allah dan membina hubungan baik sesame manusia, "Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksiatas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong”. (QS.al-Hajj: 78) Pada ayat di atas, Allah memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun keshalehan individual dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan. Ruku’ dan sujud merupakan cermin tertinggi daripengabdian seseorang kepada Allah, sedang “berbuat kebaikan” merupakan indikasi keshalehan social. Secara redaksional dalam urutan perintah ayat diatas, ternyata Allah mendahulukan keshalehan individu dari keshalehan sosial. lni berarti bahwa untukmembangun keshalehan sosial, harus dimulai dengan keshalehan individu. Atau keshalehan individu akan memberi kekuatan untukshaleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah adalah dimaksudkan agar lahir darinya keshalehan sosial, seperti shalat misalnya, ia bisa mencegah dari perbuatankeji dan munkar, “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45) Kisahyang diabadikan oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang shaleh secara individu yang diwujudkan dengan ibadahshalat, puasa dan ibadah mahdhoh lainnya, namun ternyata Rasulullah menyatakan bahwa ia dalam neraka karena ternyata keshalehan itu tidak membawanya menuju keshalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain. Dalam tataran tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’anterdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara keshalehan secara individu dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran lslam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya,seseorang dituntut untuk mampu shaleh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfaq, “Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. adz-Dzariyat: 16-19) Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangatberat untuk dilakukan, karena: Pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal ini merupakan amal yang paling utama untuk membangun keshalehan individu. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah menguji keshalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan. Nilai yang lain yang terkait dengan dua keshalehan ini adalah bahwa sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka adalah karena tidak mampu membentengi diri dengan dua keshalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. al-Muddatsir: 42-45) Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat ter:kait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua keshalehan secara simultan. Allah memberi jaminan, “Kecuali orangorang yang mengerjakan shalat,yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. al-Ma’arii: 22-25) Betapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan shaleh secara sosial tetapi lupa akan hubungan baik dengan Allah. Sebaliknya banyak juga yang shaleh secara individu namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun keshalehan di tengahtengah mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang shaleh secara individu, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah. Dan shaleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan.
Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||
| Last Updated ( Thursday, 27 October 2011 ) | ||||||||
| < Prev | Next > |
|---|


















