Menu Content/Inhalt
Custom Search
Blok Artikel arrow Blok Artikel arrow Arwah Dukun Menjadi Budak Syetan?
125x125 Banner Square JagoanStore

Polling

Apakah Anda Mengalami Gangguan ini ?
 
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday63
mod_vvisit_counterYesterday498
mod_vvisit_counterThis week4327
mod_vvisit_counterThis month10998
mod_vvisit_counterAll days291343
Members: 5467
News: 263
Web Links: 0
We have 18 guests online

Konseling

Pertanyaan
Jawaban

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

Arwah Dukun Menjadi Budak Syetan? PDF Print E-mail
Written by Ust. Ahmad Sadzali, Lc   
Thursday, 27 October 2011

Arwah Dukun Menjadi Budak Syetan?

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Ba'da Salam segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, yang menciptakan manusia sebaik-baik penciptaan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad yang telah membawa risalah dan menyibak gelapnya kesyirikan. O, iya ana punya beberapa pertanyaan yang selalu mengusik hati.

Ana pernah diserahi jimat berupa tasbih dan ana memusnahkannya dengan membakarnya setelah berta’awudz dan basmalah. Adakah cara khusus dalam memusnahkan jimat? Benarkah arwah dukun jika mati akan menjadi budak jin dan tidak langsung disiksa di kubur? Bolehkah mempercayai pemberitaan mimpi, misalnya disuruh pergi ke barat atau disuruh berbuat shalih? Benarkah ada hadits atau atsar yang menyatakan seburuk-buruk manusia adalah yang ditampaki jin? Wassalam

Budi Yahya, BumiAllah

 

Sample ImageJawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara Budi dan Seluruh pembaca Ghoib, semoga selalu dalam lindungan Allah Yang perlu dilakukan sebelum memusnahkan jimat adalah memusnahkan keyakinan terhadap jimat. Jimat adalah apa saja yang diyakini mempunyai kekuatan bisa mendatangkan manfaat atau menolak bahaya sementara kekuatan itu hanya Allah yang punya. Penamaannya pun beragam. Ada rajah, wifiq , azimat, isim dan sebagainya. Yang biasanya dipasang diatas pintu, di atap dimasukkan plastik atau botol ditanam di pekarangan rumah, dimasukkan di dompet,  ikat pinggang dijadikan rompi atau yang  lainnya.

Pemahaman seperti itulah yang harus diluruskan, bahwa tidak ada suatu benda apapun yang bisa mendatangkan manfaat dan bisa menolak mudharat kecuali atas izin Allah. Kemudian dengan keyakinan yang benar itu, berlindunglah kepada Allah dengan membaca ta’awwudz dan membaca basmalah dengan bertawakkallah kepada Allah, maka musnahkan jimat itu, dengan membakarnya.

Saudara Budi dan Seluruh pembaca Ghoib, semoga selalu dalam lindungan Allah. Dalam Syari’at lslam tidak ada ruh yang menjadi budak jin setiap orang yang meninggal ruhnya akan kembali pada tempatnya. Ruh orang yang baik akan terpisah dari ruh orang yang jahat. Yang jelas,masing-masing telah ada tempat yang disediakan Allah. Menurut qodhi lyadh, ruh mu’minin akan kembali ke al-malaul a’la atau ‘Illiyin (tempat yangpaling atas) sedangkan ruh kafirkembali ke Sijjin (tempat yang paling bawah). Hal itu didasarkan atas hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Sa’id al-Khudriyang jelas menyebut sijjin sebagai tempat kembalinya ruh kafir. Jadi tidak ada dalam ajaran lslam ruh yang menjadi budak jin.

Saudara Budi dan seluruh pembaca Majalah Ghoib, semoga selalu dalam lindungan Allah. Ada yang mengatakan bahwa mimpi itu adalah bunganya tidur, namun dalam kenyataannya tidak semua mimpi itu indah, mimpi ada yang baik dan ada yang buruk bahkan menakutkan. Nabi bersabda, “Mimpi yang baik datangnya dari Allah dan mimpi yang buruk datangnya dari syetan. Barang siapa memimpikan sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah (tipls) ke kiri tiga kali dan hendaklah ia berlindung kepada Allah dari gangguan syetan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidaksemestinya kita menjadikan mimpi itu sebagai pedoman yang menuntun kehidupan kita.Karena dalam syariat lslam, mimpi tidak bisa dijadikan landasan syariat. Seandainya mimpi itu baik, maka ketika kita mengikuti mimpinya itu bukan berarti kita mengikuti itu ada ajarannya dalam al-Qur'an dan al-Sunnah. Karena ukuran kebaikan adalah harus baik menurut Allah dan Rasul-Nya bukan baik menurut versi manusia, baik bagi si A belum tentu baik bagi yang lain.

Saudara Budi dan seluruh pembaca Majalah Ghoib, semoga selalu dalam lindungan Allah. Tidak ada dalil yang menyatakan bahwa orang yang melihat penampakan adalah seburuk-buruk manusia. Cukuplah sebagai dalil, bahwa Abu Hurairah shahabat mulia nabi itu pernah melihat penampakan jin di rumah zakat. Penampakan merupakan bagian dari gangguan, maka kita yakin tidak ada seorang pun yang menginginkan terjadinya penampakan pada dirinya. Namun perhatikan dengan seksama apakah penampakan yang dilihatnya itu sering terjadi atau sesekali saja atau bahkan hanya sekali-kalinya dalam hidupnya. Penampakan itu adalah bagian dari gangguan, dimana jin setelah menyihir dirinya menampakkan diri dalam wuiud yang bukan aslinya, baik menampakkan diri menyerupai seperti manusia atau mungkin juga menyerupai binatang.

Dalam realita keahidupan, kita dapati seseorang melihat sosok yang menakutkan sementara yang lain tidak melihatnya. Maka itu adalah gangguan yang hanya ditujukan kepadanya.Jika itu teriadi pada Anda hanya sesekali atau bahkan jarang ianganlah takut, berlindunglah kepada Allah bacalah takbir, Ayat Kursi, surat-surat Pendek atau dzikir-dzikir lain yang disyari’atkan, lnsya Allah de gangguan itu akan hilang. Namun jika itu terjadi sering pada diri Anda, maka sebaiknya Anda meruqyah diri Anda sendiri atau diruqyah oleh orang lain.

Akhirnya hanya kepada Allah kita memohon perlindungan. Wallahu a’lam bis showab.

 

Akhmad Sadzali, Lc.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 27 October 2011 )
 
< Prev   Next >