Popular
- Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?
- Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul
- Ajian Pemanggil Roh
- Pertolongan Pertama Pada Kesurupan Jin
- Antara Ilmu Hitam dan Ilmu Putih
- Jimat “Pelet” Penyambung Putus Cinta
- PENGOBATAN ala RASULULLAH SAW
- 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua
- Uang Sering Hilang Dicuri Tuyul
- Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?
- Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghaib
- Terapi Ruqyah dan Kedokteran Modern
- SEJARAH PERDUKUNAN DARI MASA KE MASA
- Wiridan Dua Juta Kali?
- Rambu-rambu Ikhtiar dalam Islam
| Peruqyah dan Peserta Ruqyah Masuk Neraka? |
|
|
|
| Written by Ust. Akhmad Sadzali, Lc | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| Friday, 07 January 2011 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Peruqyah dan Peserta Ruqyah Masuk Neraka? Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kepada pengasuh konsultasi mudah-mudahan selalu mendapatkan curahan rahmat dariAllah. Ada beberapa yang masih mengganjal di hati saya, yang ingin saya tanyakan pada kesempatan ini: 1. Apa benar orang yang meruqyah dan orang yang minta diruqyah masuk neraka? 2. Bagaimana dengan orang-orang yang punya masalah atau gangguan disebabkan karena ketidaktahuannya hingga ia beIajar ‘ilmu-ilmu’? 3. Apakah gangguan yang terjadi pada diri seseorang itu murni disebabkan oleh kesalahan orang itu? Abdullah, Jakarta
Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh Saudara Abdullah dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam perlindungan Allah. Dan menjauhkan kita dari panasnya api neraka. Untuk menghindari siksa neraka setidaknya ada dua hal utama yang harus kita lakukan. Yaitu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dengan itulah semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya dan menjadikan kita sebagai bagian dari penghuni surga. Terkait dengan masalah larangan, yang bila di langgar diancam dengan dosa, maka ada yang tergolong ringan dan ada pula yang masuk kategori berat. Seperti dosa syirik misalnya. Sedemikian beratnya dosa syirik sehingga Allah tidak akan mengampuninya sebelum bertaubat. Karena itu, kita harus memahami dengan baik, segala hal yang menjerumuskan kita ke dalam perilaku kemusyrikan. Masalahnya, apakah ruqyah termasuk dosa syirik yang pada akhirnya mengantarkan orang yang meruqyah dan diruqyah masuk neraka? Memang ada sebuah hadits riwayat Abu Dawud yang arti nya, “Sesungguhnya ruqyah, jimat dan jampi-jampi itu syirik.” (HR. Abu Daud). Dalam hadits diatas dikatakan bahwa ruqyah, jimat dan jampi-jarnpi termasuk syirik. Namun, kita perlu memahami bahwa masih terdapat beberapa hadits lain yang menjelaskan masalah ruqyah ini. Dengan kata lain, pengertian yang benar tentang hakekat ruqyah yang sebenarnya tidak bisa hanya berdasarkan kepada satu hadits di atas lalu kita menafikan hadits-hadits lain yang shahih. Perhatikanlah hadits riwayat Muslim, yang menyebutkan pengaduan salah seorang sahabat atas ruqyah yang pernah mereka lakukan di zaman jahiliyyah. Rasululullah SAW menanggapi aduan itu dengan meminta mereka,mengungkapkan cara ruqyah di masa jahiliyyah. “Perdengarkanlah doa ruqyah yang kalian miliki! Doa ruqyah itu tidak apa-apa selama tidak ada kesyirikan di dalanrnya.” (HR. Muslim). Dari hadits yang kedua ini, bisa dipahami bahwa Ruqyah terbagi menjadi dua macam Ruqyah Syar’iyyah (Ruqyah yang sesuai dengan syari'at lslam) dan Ruqyah Syirkiyyah (Ruqyah yang mengandung unsur syirik). Ruqyah Syar’iyyah dibolehkan Rasulullah sedangkan yang dilarang adalah Ruqyah Syirkiyyah. Ruqyah Syar’iyyah adalah dengan cara membaca ayat-ayat al-Qur’an dan doa ma’tsur, dengan suara yang jelas tidak ditambahkan dengan jurus-jurus, mantra-m antra atau syarat-syarat Iain yang tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an maupun hadits. Sedangkan Ruqyah Syirkiyyah bisa jadi yang dibaca adalah ayat-ayatal-Qur’an juga. Hanya saja bacaan itu disertai dengan cara-cara atau bacaan lain yang mengandung unsur kemusyrikan. Dengan kata lain, Ruqyah Syirkiyyah itulah yang bisa mengantarkan peruqyah atau orang yang minta diruqyah ke neraka. Seandainya semua ruqyah itu terlarang, niscaya Rasulullah tidak akan pernah melaku kannya. Disebutkan dalarn riwayat Muslim dari Abu Said. la berkata: “Jika Rasulullah SAW merasakan sakit, datanglah malaikat jibril kemudian bertanya,’Wahai Muhammad apakah kamu merasakan sakit?’ ‘Ya,’ jawab Nabi, kemudian malaikat Jibril membaca, “Bismillahi arqika min kulli syaiin yu’dzika, min syarri kulli nafsin ou ‘ainin hasidin yu’dzika” (Dengan nama Allah, saya meruqyah kamu dari sesuatu yang menyakitimu dan sesuatu kejahatan atau mata ‘ain, mudah-mudahan Allah menyembuhkanmu. Deingan nama Allah, saya meruqyahmu.” (HR. Muslim). Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah memasuki rumahnya dan melihat aku sedang menerapi seorang wanita, kemudian ia bersabda, “Obatilah ia dengan at-Qur’an.” (HR. lbnu Hibban dalam kitab shahihnya) Saudara Abdullah dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu datam perlindungan Allah. Bila kemudian, karena ketidaktahuan, sehingga seorang terlibat dan ikut belajar, ‘ilmu-ilmu’ maka yakinlah bahwa Ailah itu Maha Pengampun. Allah akan memaafkan kesalahan hamba-Nya yang mau mengakui kesalahannya. Apalagi jika kesalahan itu dilakukannya karena ketiadaan ilmu pada dirinya. Bertaubat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama itu yang harus dilakukan kemudian. Apa yang telah terjadi, biarlah terjadi. Karena orang tidak bisa memutar waktu ke belakang. Bila kemudian belajar ‘ilmu-ilmu’ itu menimbulkan efek yang negatif dan diperlukan pengobatan, maka lakukanlah mengikuti terapi Ruqyah Syar’iyyah dan berobat secara medis. Keduanya bisa ditempuh bersama-sama. Terkait dengan pertanyaan ketiga, maka lbnu Qayyim menyebutkan beberapa sebab gangguan pada seseorang. Pertama, adalah gangguan yang disebabkan oleh diri sendiri. Kedua, gangguan yang disebabkan oleh jin. Ketiga, gangguan yang disebabkan oleh ketidaktahuan manusia. Dan keempat, gangguan yang disebabkan oteh manusia yang bekerjasama dengan jin. Mempelajari dan meneliti dengan seksama hal-halyang terkait dengan gangguan selama ini, akan banyak membantu proses penyembuhan. Karena dengan mengetahui sebab yang jelas, maka pengobatannya lebih mudah difokuskan. Bila kemudian, ada indikasi kuat gangguan itu disebabkan oleh orang lain, jangan keburu nafsu lalu bertindak secara emosional. Jadi lidak benar kalau setiap gangguan yang terjadi selalu orang lain yang dikambing hitamkan padahal sangat mungkin dirinya sendiri penyebabnya. Wallahu A’lam.
Akhmad Sadzali, Lc Ghoib Ruqyah syar’iyyah
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Friday, 07 January 2011 ) | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|




















