Menu Content/Inhalt
Custom Search
Blok Artikel arrow Katanya arrow Kisah si ‘Adik Ari-Ari’
125x125 Banner Square JagoanStore

Polling

Apakah Anda Mengalami Gangguan ini ?
 

Newsflash

ShoutMix chat widget
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday94
mod_vvisit_counterYesterday595
mod_vvisit_counterThis week1895
mod_vvisit_counterThis month4570
mod_vvisit_counterAll days234876
Members: 4104
News: 255
Web Links: 0
We have 22 guests online

Konseling

Pertanyaan
Jawaban

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

Kisah si ‘Adik Ari-Ari’ PDF Print E-mail
Written by Ghoib Ruqyah Syar'iyyah   
Tuesday, 09 February 2010

Kisah si ‘Adik Ari-Ari’

 

Katanya, sebaSample Imagegian besar masyarakat menganggap, bahwa plasenta (ari-ari) bagian yang tak terpisahkan dari sang bayi. Oleh karena itu katanya, plasenta atau ari-ari sebaiknya dirawat sebaik mungkin, dicuci sampai bersih, dibungkus kain kafan, kemudian dikubur yang agak dalam. Bahkan, katanya, ia juga harus diberi penerangan lampu, baik listrik atau minyak, serta ditaburi bunga-bungaan, seperti layaknya orang meninggal.

 

Pemahaman ini katanya, berdasarkan pendapat secara turun-temurun yang menganggap ari-ari adalah kakak bayi, yang telah menemani sang bayi selama di kandungan. Di sebagian masyarakat Jawa, ari-ari mendapat sebutan adi ari-ari (adik ari-ari). Secara urutan, yang paling tua adalah kakang kawah (ketuban), adik ari-ari (plasenta), dan Jabang bayi (si bayi). Dengan urutan ini bayi adalah paling muda, dengan demikian penghormatan yang lebih tua sebaiknya dilakukan agar tidak tertimpa bencana. Demikian kata sebagian orang.

Secara medis, plasenta berperan besar dalam mengatur lalu lintas suplai dan pembuangan berbagai unsur yang dibutuhkan janin untuk terus hidup. Misalnya saja, mengatur lalu lintas oksigen dan karbondioksida, demikian juga halnya memasukkan nutrisi dan mengeluarkan sisa asupan janin. Sebagai tambahan atas fungsi ini, plasenta juga memproduksi hormon-hormon yang dibutuhkan ibu di sepanjang masa kehamilannya, guna menjaga kelangsungan hidup janin,  yaitu HCG (human chorionic gonadotropin), estrogen juga progesteron.

Katau plasenta tak bekerja, kemungkinan akan timbul bermacam-macam kelainan pada bayi. Dan, yang pasti yang menemani bayi didalam rahim adalah plasenta, sebagai penyambung hidup sang janin. Dan, apabila plasenta mengalami kelainan dan tidak mampu menyuplai oksigen dan nutrisi kepada janin maka janin akan mengalami kematian dalam kandungan.

Boleh iadi, dengan peran yang cukup besar itulah sebagian orang menganggap bahwa ari-ari demikian luhur dalam menjaga kelangsungan hidup janin khususnya dan populasi manusia pada umumnya. Namun, Pusat Konsultasi Syariah yang diasuh oleh para doktor syari'ah seperti Dr. Salim Segaf Al-Jufri, yang beralamat di www.syariah online, menjelaskan, tidak ada dasar hukum yang mengharuskan ari-ari atau plasenta dikuburkan. Hanya saja menurut Pusat Konsultasi Syariah itu, sebaiknya dikembalikan saja kepada maslahatnya. Mungkin yang lebih baik memang dikubur atau dipendam, agar tidak menjadi penyakit atau mengotori lingkungan.

Dengan demikian, hukum penguburannya tidak ada landasan hukumnya dalam lslam. Bilapun ingin dikuburkan sebaiknya hanya diniatkan untuk mencegah timbulnya penyakit. Karena dikhawatirkan bila plasenta dibiarkan di tempat terbuka, akan membusuk dan menimbulkan penyakit.

Jadi, boleh saja mengubur plasenta alias si ‘adik ari-ari’. Tapi, jauhkan syirik dari kita. Karena semua itu  hanya katanya …. Waspadalah!

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >