Popular
- Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?
- Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul
- Ajian Pemanggil Roh
- Pertolongan Pertama Pada Kesurupan Jin
- Antara Ilmu Hitam dan Ilmu Putih
- 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua
- Jimat “Pelet” Penyambung Putus Cinta
- Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghaib
- Terapi Ruqyah dan Kedokteran Modern
- PENGOBATAN ala RASULULLAH SAW
- Saya Gagal Dakwah dengan Cara Perdukunan
- Rambu-rambu Ikhtiar dalam Islam
- SEJARAH PERDUKUNAN DARI MASA KE MASA
- Wiridan Dua Juta Kali?
- Uang Sering Hilang Dicuri Tuyul
| La'allakum Tattaqun (?) |
|
|
|
| Written by Budi Ashari Lc | ||||||||
|
La'allakum Tattaqun (?) FAJAR 1 Syawal tahun berapa pun merupakan momentum di mana seharusnya kita telah memastikan bahwa ketaqwaan telah kita raih. Sebagaimana ayat mengungkapkan dengan kata la'allakum tattaqun (semoga kalian bertaqwa) pada ayat 183 dan la'allahum yattaqun (semoga mereka bertaqwa) pada ayat terakhir yang berbicara tentang Ramadhan yaitu 187. Tetapi masalahnya, bagaimana kita yakin telah mendapatkan ketaqwaan, ampunan, dan ridha. Kesemuanya adalah masalah abstrak yang tidak bisa dideteksi. Apakah dengan mempunyai kesadaran menuntut ilmu Islam di luar Ramadhan bisa menjadi ukuran. Apakah mempunyai kesadaran beribadah lebih banyak di luar Ramadhan bisa menjadi ukuran. Apakah banyak berbagi dengan sesama di luar Ramadhan bisa menjadi ukuran. Mungkin saja bisa. Tetapi jangan-jangan kita tidak bisa mengukur tingkat subyektifitas kata hati kita. Sebatas merasa tetapi bukan kenyataan sesungguhnya. Bagaimana pula jika semangat itu hanya ada pada bulan Syawal atau dua bulan selanjutnya. Selepas itu, semua kembali dalam intonasi dan suhu seperti sebelum Ramadhan. Bersyukur, kita telah dimudahkan oleh Allah SWT pada bulan mulia dan penuh berkah tersebut. Kemudahan hingga Allah SWT memberikan untuk kita parameter yang lebih mudah dibaca karena terlihat jelas dan bersifat sangat fisik. Parameter itu adalah hasil dari ketaqwaan yang disebutkan dalam al-Qur'an sendiri. Paling tidak ada tiga buah taqwa yang secara berurutan disebutkan dalam Surat ath-Thalaq (ayat: 2, 3 dan 4). Parameter pertama, solusi dari permasalahan yang menghadang. Masalah dalam hidup adalah hal yang biasa karena kehidupan ini sendiri adalah permasalahan dan melelahkan. Tetapi tidak sembarang orang mudah mendapatkan solusinya. Parameter kedua, rizki bahkan dari pintu yang tak disangka. Kemudahan rizki bukan berarti kaya. Tetapi masing-masing orang pada levelnya masing-masing bisa merasakan kenikmatan mendapat anugerah rizki dari tempat yang tidak dia sangka. Paremeter ketiga, semua urusannya mudah. Ya, semua urusannya. Rumah tangganya, mendidik generasinya, pekerjaannya dan rencana ke depannya. Semua urusannya mudah. Tidak banyak hambatan dan sumbatan. Ini tiga parameter. Parameter yang sangat terlihat dan bisa kita raba. Kalau kita bisa merasakannya pada bulan-bulan selepas Ramadhan ini, maka semoga kabar ini sangat baik bahwa kita telah meraih ketaqwaan. Kita ditunjuki jalan untuk keluar dari setiap permasalahan. Kita diberi kemudahan dan tambahan-tambahan rizki. Kita dimudahkan dalam setiap urusan. Namun jika sebaliknya. Permasalahan demi permasalahan tetap tidak menjumpai titik terang penyelesaiannya. Rizki semakin sulit dan seperti ada sumbatan besarnya. Rencana dan urusan sulit untuk digapai dan selalu ada ganjalannya. Nampaknya kita harus segera melihat ke belakang tentang kisah kita di Bulan Ramadhan. Mungkin banyak yang tidak maksimal. Mungkin banyak yang kita abaikan. Bahkan mungkin ada yang salah. Sehingga bukan kesucian yang kita raih karena kita telah mengotori hari-hari suci di Bulan Suci. Semoga Allah SWT masih memberikan kembali kesempatan untuk merajut kesalahan dan kekurangan pada Ramadhan-Ramadhan berikut. Amin.
Budi Ashari Lc
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||
| < Prev | Next > |
|---|



















