Popular
- Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?
- Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul
- Ajian Pemanggil Roh
- Pertolongan Pertama Pada Kesurupan Jin
- Antara Ilmu Hitam dan Ilmu Putih
- 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua
- Jimat “Pelet” Penyambung Putus Cinta
- Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghaib
- Terapi Ruqyah dan Kedokteran Modern
- PENGOBATAN ala RASULULLAH SAW
- Saya Gagal Dakwah dengan Cara Perdukunan
- Rambu-rambu Ikhtiar dalam Islam
- SEJARAH PERDUKUNAN DARI MASA KE MASA
- Wiridan Dua Juta Kali?
- Uang Sering Hilang Dicuri Tuyul
| Mata Spiritual |
|
|
|
| Written by Budi Ashari Lc | ||||||||
| Monday, 05 October 2009 | ||||||||
|
Mata Spiritual
MUNGKIN bumi sudah terlalu tua. Pergerakannya seringkali menimbulkan masalah. Belum lagi Tsunami hilang dari ingatan, Jawa dan kemudian Sumatra diluluhlantakkan oleh gempa besar. Ratusan orang menjadi korban. Saat dan sesudah menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Kajian para ilmuwan telah muncul. Tentu kajian mereka berdasar kajian ilmiah. Berdasar pengamatan materi dan gejala alam. Di samping pengamatan itu, biasanya masyarakat yang berduka sering kali memandang dengan kacamata berbeda. Bukan mau berkonfrontasi dengan para ilmuwan. Juga bukan karena ingin mementahkan teori mereka. Tetapi pengamatan itu memang muncul begitu saja. Seiring dengan kajian para ilmuwan.
Ada dua sisi yang bisa kita ambil dari fenomena masyarakat di atas: Pertama, bahwa secara nurani atau hati kecil yang paling dalam, manusia terutama yang sedang dalam masalah bisa merasakan adanya kekuatan lain. Sangat terasa. Ini sebenarnya merupakan kejiwaan asli manusia. Disadari ataupun tidak. Sehebat apapun manusia, secanggih apapun teknologi yang dikuasainya, saat terbentur cadas keras masalah pasti akan lari ke satu titik itu.
Saat Tsunami menghajar Aceh, tema taubat nasional begitu membahana. Dan pasti itu yang ada di Padang sekarang. Jangankan mereka yang masih mengakui adanya tuhan. Saat gempa melumat Armenia yang kala itu masih masuk dalam negeri besar komunis Uni Sovyet pun, sang presiden langsung yang bisa merasakan kekuatan Tangan di balik semua yang terjadi. Kalau dalam bahasa al-Qur'an dicontohkan dengan mereka yang berlayar di tengah lautan -yang biasanya manusia terasa sangat kecil - kemudian badai datang, awan gelap bergulung-gulung. Seketika itulah mereka berdoa kepada Tuhannya agar diselamatkan.
Sekaligus ini membuktikan bahwa manusia tetap manusia yang tidak layak sombong dan memang harus mengakui bahwa dirinya makhluk dan tidak akan pernah menjadi tuhan. Hanya saja, biasanya mata spiritual masyarakat begitu tajam saat peristiwa sangat besar terjadi, masalah kemanusian bersama. Setelah itu, ayat mengistilahkan: ketika mereka selamat sampai di pantai, mereka kembali menjadi musyrik. Jangankan, ketika manusia mendapat nikmat dan masalah itu ber happy ending, jika masalahnya hanya kecil atau dalam skup pribadi, biasanya mereka tidak memandangnya dengan kacamata spiritual.
Kedua, mungkin kita perlu belajar untuk mengawetkan tema ini dan mengasah mata spiritual dalam setiap peristiwa. Besar atau kecil. Senang atau duka. Karena itu adalah kebiasaan para generasi Islam terbaik dahulu. Kebiasaan yang sejalan dengan tingginya tingkat iman dan pemahaman.
"Begitu cepatnya kemaksiatan terjadi di antara kalian," begitu Khalifah Umar radhiallahu anhu menyikapi gempa yang pernah terjadi di zamannya. Bahkan masa Umar bin Abdul Aziz, beliau memerintahkan rakyatnya untuk bershadaqah saat gempa terjadi. Gabungan antara kajian bahwa gempa terjadi karena kemaksiatan dan solusi antisipasi terjadinya musibah yang lebih besar dari sisi spiritual pula. Jika landasan pemahamannya adalah spiritual yang benar, maka aksinya pun menjadi benar.
Begitu pula yang harus kita biasakan pada lilitan masalah. Baik pada skup kita sebagai pribadi. Atau kita dan keluarga. Atau kita dan pekerjaan. Atau kita dan masyarakat. Atau kita dan negara. Tentu tanpa mengabaikan kajian ilmiahnya.
Budi Ashar Lc
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||
| Last Updated ( Sunday, 18 October 2009 ) | ||||||||
| < Prev | Next > |
|---|


















