Popular
- Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?
- Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul
- Ajian Pemanggil Roh
- Pertolongan Pertama Pada Kesurupan Jin
- Antara Ilmu Hitam dan Ilmu Putih
- 12 Tahun Aku ‘Disiksa’ Jin Calon Mertua
- Jimat “Pelet” Penyambung Putus Cinta
- Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghaib
- Terapi Ruqyah dan Kedokteran Modern
- PENGOBATAN ala RASULULLAH SAW
- Saya Gagal Dakwah dengan Cara Perdukunan
- Rambu-rambu Ikhtiar dalam Islam
- Wiridan Dua Juta Kali?
- SEJARAH PERDUKUNAN DARI MASA KE MASA
- Uang Sering Hilang Dicuri Tuyul
| Nasehat Umar kepada Saad |
|
|
|
| Written by Budi Ashari Lc | ||||||||
| Thursday, 16 July 2009 | ||||||||
|
Nasehat Umar kepada Saad Nasehat adalah bagian dari kebiasaan orang-orang beriman. Mereka membangun kebersamaan di atas saling menasehati. Menasehati dalam kebenaran. Menasehati dalam kesabaran. Menasehati dalam rasa kasih sayang.
Menasehati dalam kebenaran agar selalu kokoh dalam kebenaran. Karena kebersamaan ini bisa langgeng dengan kebenaran yang masih dipertahankan. Menasehati dalam kesabaran, karena perjuangan ini perlu kesabaran dari awal hingga akhir. Berbagai rintangan dan masalah akan mendera. Batu sandungan bagian dari yang terelakkan. Menasehati dalam rasa kasih sayang, karena semua ini perlu balutan kasih sayang dalam makna yang benar dengan semangat Ukhuwwah Islamiyah. Menasehati dengan kasih sayang dan tetap mempertahankan nilai persaudaraan. Tidak ada yang bergeser walau nasehat terkadang disampaikan dengan bahasa yang terdengar kurang nyaman. Penasehat harus menjaga hatinya. Tidak boleh bergeser barang serambutpun dari semangat cinta karena Allah SWT. Ini kisah yang terhitung paling ekstrim untuk sebuah nasehat kepada saudara seperjuangan tanpa menggeser kebersamaan dan persaudaraan. Suatu saat Umar, mendengar berita dari masyarakat bahwa Saad bin Abi Waqqash membangun istana. Umar di Madinah. Saad di Kufah. Masyarakat ramai menyampaikan bahwa Saad membangun istana di Kufah dan menutup pintu dari orang-orang yang memerlukannya sebagai seorang pejabat publik. Umar sebagai khalifah bertanggungjawab terhadap tindak tanduk gubernurnya. Berita telah didengar. Umar memanggil Muhammad bin Maslamah, sahabat mulia yang menjadi salah satu pendamping Umar untuk menjalankan roda pemerintahan. “Berangkatlah ke Kufah. Datangi istananya kemudian bakarlah pintunya !” perintah Umar. Muhammad bin Maslamah berangkat. Sesampainya di Kufah, dia membeli kayu bakar dan kayu itu dipanggul hingga depan istana Saad. Kemudian api di sulut pintupun terbakar. Saad yang diberitahu tentang pembakaran pintu istananya. Saad langsung memahami sehingga ia berkata, “Itu orang utusan yang diutus untuk melakukan ini.” Saad memerintahkan agar melihat siapa yang membakar. Ternyata Muhammad bin Maslamah, saudara seperjuangannya saat masih bersama Rasulullah SAW. Saad mempersilahkan masuk. Muhammad bin Maslamah menolak. Saad memberinya bekal untuk pulang ke Madinah, dia juga menolak. Muhammad bin Maslamah menyerahkan surat Umar yang membunyikan nasehat dari seorang saudara yang menginginkan kebaikan untuk saudaranya seiman. Muhammad bin Maslamah pulang ke Madinah. Melaporkan tugasnya kepada Umar sekaligus menyampaikan sumpah Saad bahwa tuduhan masyarakat bahwa dirinya menutup diri dari mereka tidaklah benar. Umar segera menjawab, “Dia benar, lebih benar dibandingkan orang-orang yang menceritakan tentang keburukan dirinya.” Inilah ukhuwah tingkat tinggi. Nasehat dengan cara membakar dan surat yang cukup keras menohok, tidak merubah sama sekali sikap keduanya. Tetap saudara karena Allah SWT.
Budi Ashari Lc
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||
| Last Updated ( Sunday, 18 October 2009 ) | ||||||||
| < Prev |
|---|

















