Menu Content/Inhalt
Custom Search
Blok Artikel arrow Blok Artikel arrow Pelajaran Terakhir Sekolah
125x125 Banner Square JagoanStore

Polling

Apakah Anda Mengalami Gangguan ini ?
 

Newsflash

ShoutMix chat widget
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday100
mod_vvisit_counterYesterday595
mod_vvisit_counterThis week1901
mod_vvisit_counterThis month4576
mod_vvisit_counterAll days234882
Members: 4104
News: 255
Web Links: 0
We have 21 guests online

Konseling

Pertanyaan
Jawaban

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Syndicate

Pelajaran Terakhir Sekolah PDF Print E-mail
Written by Budi Ashari, Lc   
Thursday, 06 May 2010
Pelajaran Terakhir Sekolah 
 

Sebuah pesan pendek singgah. Tak tahu dari siapa. Yang jelas dari seorang guru. Karena bertanya soal permasalahan yang dihadapinya. Tentang pendidikan. Pendidikan negeri ini yang menyedihkan.

Guru yang malang itu bertanya tentang keharusan membocorkan jawaban soal-soal ujian nasional. Karena keharusan itu berasal dari kebijakan sekolah tempatnya mengajar. Sementara hati kecilnya menolak. Karena jelas ini dusta masal. Dan bukan perbuatan guru yang bisa digugu dan ditiru.

Kalau hanya berita seperti itu, biasa saja. Hitunglah satu kasus dari sekian banyak kasus yang ada, sangat kecil. Tetapi ternyata ini adalah perwakilan kasus yang banyak terjadi di tempat lain.

Tempat mulia tempat diajarkannya ilmu dan kebaikan itu keruh. Sekolah khawatir tentang pencitraannya. Sekolah khawatir kalau dibubarkan karena sekian persen siswanya tidak lulus ujian nasional. Akhirnya akan terdapat sekian guru kehilangan pekerjaannya. Sangat pendek visi yang dimilikinya.

Tak cukup sampai disitu, pungli pun terjadi. Setelah membocorkan kunci jawaban, terkadang guru menengadahkan tangan menerima recehan siswa. Pengajar ilmu dan kebaikan pun telah keruh.

Sample ImagePara siswa pun mulai terbentuk suatu rumor. Mereka menyatakan tidak perlu belajar, percuma. Karena akan diberikan jawabannya. Mereka mulai berpikir pragmatis. Kesenangan sesaat. Sangat tidak mudah menolaknya. Karena yang lain mendapat jaminan lulus, sementara yang menolak harus mengerutkan dahi berpikir keras untuk mengurai soal-soal ujian. Dan belum tentu lulus. Para siswa negeri ini juga keruh.

Pihak berwenang bungkam. Diam. Tidak tahu, mungkin. Tapi rasanya tidak mungkin tidak tahu. Walau telah menurunkan para pengawas. Bahkan pengawas independen. Tetapi berita seperti ini telah menjadi hal yang biasa. Departemen Pendidikan semestinya bukan hanya bisa membuat soal di balik meja. Tapi juga segera menyikapi para guru dan anak didik jujur yang tertekan di negeri ini. Jangan-jangan mereka juga telah keruh.

Ujian Nasional adalah pelajaran terakhir untuk anak didik di negeri ini. Setelah sekian lama mereka menerima pelajaran dari para guru dan kebersamaan. Pesan terakhir untuk mereka sebelum meninggalkan sekolah dan para guru serta teman. Para generasi itulah yang akan menopang negeri besar ini. Dan inilah pelajaran terakhir bagi mereka.

Pelajaran : Dusta dan kebohongan masal.

Pelajaran : Pengkhianatan.

Pelajaran : Berpikir pragmatis tanpa visi dan misi.

Pelajaran : Korbankan kebaikan dan kejujuran.

Pelajaran : Korbankan dan singkirkan orang baik dan jujur.

Pelajaran : Kura-kura dalam perahu.

Negeri ini akan dipimpin oleh orang yang sekarang sedang belajar beberapa pelajaran terakhir di atas.

 

Budi Ashari

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 06 May 2010 )
 
< Prev   Next >